Reklamasi laut kerap disebut sebagai jalan pemulihan. Di perairan Kepulauan Bangka Belitung, PT TIMAH Tbk memilih menurunkannya ke dasar laut, satu per satu, dalam bentuk struktur buatan yang diharapkan dapat menggantikan ruang hidup yang pernah hilang.
Melalui program reklamasi laut, perusahaan tambang timah ini menenggelamkan artificial reef sebagai upaya mengembalikan fungsi ekologis perairan dan menopang keberlanjutan wilayah pesisir. Bukan sekadar menutup jejak aktivitas tambang, tetapi membangun ulang ruang bagi biota laut.
Struktur di Dasar Laut
Artificial reef dirancang sebagai habitat baru. Fungsinya berlapis: tempat berlindung, mencari makan, berkembang biak, hingga membentuk ekosistem baru di dasar perairan. Bentuknya menyerupai kubah atau tudung saji, diturunkan ke titik-titik yang sebelumnya berupa hamparan pasir.
Sepanjang 2025, PT TIMAH Tbk menurunkan 1.920 unit artificial reef di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Lokasinya tersebar di Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah, dan Bangka Selatan.
Sebelas titik dipilih sebagai tempat penenggelaman, mulai dari Perairan Rambak, Rebo, Tuing, Pulau Lampu, Tanjung Melala, Malang Gantang, Tanjung Ular, Karang Aji, Pulau Pelepas, Pulau Panjang, hingga Perairan Kubu.
Pasir yang Mulai Hidup
Dosen Ilmu Kelautan Universitas Bangka Belitung, Indra Ambalika Syari, menyebut perubahan sudah terlihat. Area yang sebelumnya datar dan minim kehidupan kini mulai dipenuhi aktivitas biota laut.
โDi lokasi artificial reef sudah banyak biota laut yang bermain, berkumpul, mencari makan, melakukan pemijahan (spawning), menempelkan telur, hingga proses pembesaran. Dari sisi ekologi, artificial reef ini memang ditujukan untuk membentuk habitat baru bagi biota laut di dasar perairan,โ jelas Indra, Senin (10/2/2026).
Menurutnya, tumbuhan dan hewan laut secara alami mulai menempel dan memanfaatkan struktur tersebut. Dasar perairan yang semula kosong perlahan berubah fungsi.

Dampak yang Merembet ke Darat
Program reklamasi laut ini tidak hanya berhenti di bawah permukaan air. Prosesnya melibatkan masyarakat setempat, sejak pembuatan rangka artificial reef, pengangkutan menggunakan perahu nelayan lokal, hingga penenggelaman yang mempekerjakan tenaga kerja sekitar.
โSecara langsung program ini memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Selain itu, habitat baru yang terbentuk juga menjadi fishing ground baru bagi nelayan,โ ujar Indra.
Hasil monitoring menunjukkan perubahan pada stok ikan konsumsi. Di titik-titik baru tersebut, biomassa ikan tercatat meningkat.
โBiomassa ikan yang lazim dikonsumsi masyarakat tercatat lebih dari 600 kilogram per hektare di lokasi baru artificial reef,โ tambahnya.
Tanggung Jawab yang Masih Bergerak
Indra menilai reklamasi laut ini sebagai bentuk tanggung jawab lingkungan atas aktivitas penambangan laut. Namun, ia juga menekankan perlunya evaluasi berkelanjutan agar manfaatnya tidak berhenti di angka-angka awal.
โProgram ini seharusnya menjadi pemantik dan role model bagi perusahaan-perusahaan lain, khususnya industri pertambangan timah, agar turut bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan laut,โ katanya.
Di perairan Bangka Belitung, struktur-struktur buatan itu kini diam di dasar laut. Di atasnya, aktivitas tambang telah berlalu. Di sekitarnya, ekosistem baru mulai tumbuh, pelan, sambil menunggu waktu yang akan berbicara lebih jauh.


