Lewati ke konten utama
pemred.com
★★★★★ Official app

Harga Timah Membaik Usai Aspirasi Disampaikan, Penambang Beltim Berharap PT TIMAH dan Masyarakat Terus Bersinergi

Share:

BELITUNG TIMUR – Harga timah yang kini berada di kisaran Rp200 ribu per kilogram mulai membawa perubahan bagi penambang rakyat di Kabupaten Belitung Timur. Bagi mereka yang selama ini menggantungkan penghidupan dari timah, membaiknya harga bukan sekadar kenaikan angka, melainkan turut menentukan kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut dirasakan Didi (48), penambang asal Desa Sukamandi, Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur. Lebih dari 20 tahun bergelut sebagai penambang membuat dirinya merasakan langsung bagaimana naik turunnya harga timah memengaruhi keadaan ekonomi keluarga.

Selepas masyarakat menyampaikan aspirasi di kantor PT TIMAH, harga timah yang kini mencapai kisaran Rp200 ribu per kilogram disambut Didi sebagai keadaan yang lebih baik bagi penambang.

“Alhamdulillah, semenjak harga ini Rp200 ribu, ekonomi kita terbantu. Pertama, dapur mulai stabil, perekonomian lebih stabil. Anak-anak juga nyaman untuk bersekolah,” ujar Didi.

Menurutnya, hasil menambang tidak dapat selalu dipastikan. Dalam satu kesempatan, penambang terkadang hanya memperoleh satu hingga dua kilogram timah. Namun dengan harga yang lebih tinggi, hasil dalam jumlah tersebut tetap dapat membantu menopang kebutuhan keluarga.

“Walaupun satu kilo, dua kilo kita dapat, kita bisa membiayai keluarga dengan lebih baik. Tidak terlalu kekurangan dalam menopang ekonomi keluarga,” katanya.

Dari Rp100 Ribuan ke Rp200 Ribu, Beban Penambang Mulai Berkurang

Didi masih mengingat keadaan ketika harga timah berada di kisaran Rp100 ribuan per kilogram. Pada masa itu, pendapatan dari hasil menambang kerap tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan.

Di sisi lain, kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi. Biaya kehidupan keluarga hingga pendidikan anak menjadi pengeluaran yang tidak dapat ditunda.

“Kalau harga yang kemarin seratus lebih, kita kekurangan. Sementara biaya operasinya besar. Ekonomi keluarga juga harus ditopang dengan baik, anak-anak harus sekolah,” tuturnya.

Keadaan tersebut pernah membawa Didi pada pilihan yang tidak mudah. Demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia mengaku sempat menjual peralatan hingga menggadaikan barang berharga ketika harga timah berada pada tingkat yang rendah.

Tekanan ekonomi, menurut Didi, juga dapat membawa pengaruh lebih jauh terhadap kehidupan rumah tangga. Ketika pendapatan tidak mencukupi sementara kebutuhan terus berjalan, ketenteraman keluarga pun dapat ikut terganggu.

“Semenjak harga timah mahal, Alhamdulillah kita berkeluarga juga tenang. Bisa menjalani kehidupan dengan baik. Tapi kalau timah murah, yang tidak bertengkar pun bisa bertengkar dengan keluarga karena masalah ekonomi,” katanya.

Karena itu, harga sekitar Rp200 ribu per kilogram saat ini dinilainya memberi ruang yang lebih lapang bagi penambang untuk mengatur kebutuhan keluarga.

“Puas, sangat puas. PT TIMAH dapat mengerti masyarakat dan memikirkan ekonomi kita. Karena memang timah sekarang sangat sulit didapatkan,” ujarnya.


Berharap PT TIMAH dan Penambang Berjalan Seiring

Bagi Didi, membaiknya harga timah juga membawa harapan baru terhadap hubungan antara masyarakat penambang dengan PT TIMAH. Ia menginginkan keadaan yang kini dirasakan masyarakat dapat terus dijaga agar roda perekonomian penambang di Belitung Timur tetap bergerak.

“Kami berterima kasih kepada PT TIMAH karena dapat membuat ekonomi Belitung Timur menjadi lebih baik. Masyarakat Belitung Timur sebagian besarnya penambang rakyat,” katanya.

Didi memandang keberadaan PT TIMAH sebagai perusahaan pertambangan milik negara mempunyai arti penting bagi masyarakat. Ia berharap manfaat dari kegiatan usaha perusahaan dapat kembali kepada rakyat dan negara.

“PT TIMAH harus siap berdiri untuk rakyat. Kalau investor asing, keuntungan tentu ada yang dibawa keluar. Tapi kalau PT TIMAH, saya yakin keuntungannya akan kembali kepada rakyat Indonesia,” katanya.

Namun, harapan masyarakat menurutnya tidak berhenti pada persoalan harga. Didi menyebut masih ada perkara lain yang perlu dibicarakan bersama, mulai dari akses terhadap wilayah penambangan, kepastian usaha hingga jaminan sosial bagi para penambang.

Untuk itu, komunikasi antara perusahaan, pemerintah dan masyarakat dinilainya perlu terus dijaga.

“Harapan saya PT TIMAH tetap bersinergi dengan masyarakat dengan baik, baik itu soal harga maupun urusan lainnya, jaminan sosial atau tentang penambang. Itu harus dipikirkan agar ke depan tetap berjalan bersama,” ujarnya.

Didi berpandangan, berbagai kepentingan antara perusahaan dan penambang dapat dipertemukan melalui pembicaraan yang terbuka. Setiap persoalan, menurutnya, perlu diletakkan dalam ruang musyawarah agar penyelesaian dapat dicari tanpa tindakan anarkis.

“Apa yang kurang dari penambang, apa yang kurang dari PT TIMAH, harus dibicarakan. Baik masalah lahan tambang, perkembangan ekonomi, maupun jaminan sosial bagi penambang. Itu harus disinergikan,” katanya.


Aksi Aspirasi dan Pentingnya Membuka Ruang Dialog

Didi turut menyinggung aksi penyampaian aspirasi masyarakat yang sebelumnya berlangsung di kantor PT TIMAH. Baginya, peristiwa tersebut muncul dari keresahan masyarakat ketika jalan penyelesaian dirasakan belum menemukan titik temu.

Ia mengaku menyimpan kesedihan atas aksi tersebut. Terlebih, PT TIMAH dipandangnya sebagai perusahaan milik negara yang semestinya dapat berjalan bersama masyarakat.

“Saya sedih sebenarnya dengan aksi kemarin. Sedih karena PT TIMAH itu punya kita sendiri. Tapi masyarakat juga merasa tidak punya jalan lain. Kalau jalan sudah buntu, akhirnya seperti balon yang pecah,” ujarnya.

Meski demikian, Didi menilai pertemuan langsung antara masyarakat dan perusahaan tetap menjadi jalan yang lebih baik. Dengan duduk bersama, berbagai persoalan diharapkan dapat dibicarakan hingga ditemukan penyelesaian yang tidak merugikan salah satu pihak.

“Kalau mereka ketemu dan dicari baik-baik, saya yakin akan menghasilkan sesuatu yang baik bagi PT TIMAH maupun masyarakat. Jadi tidak ada yang dirugikan,” katanya.

Menurut Didi, perhatian terhadap perekonomian masyarakat pada akhirnya juga akan membawa manfaat bagi negara. Ketika masyarakat memperoleh penghasilan dan kegiatan ekonomi berjalan, perputaran ekonomi yang tercipta akan kembali memberi pengaruh terhadap pembangunan.

“Utamakan masyarakat dan bela masyarakat, terutama ekonominya. Itu akan menguntungkan negara. Semuanya bertumpu pada masyarakat,” katanya.

Hal yang sama diharapkannya dalam pengelolaan sumber daya timah. Menurut Didi, kepentingan negara, perusahaan dan masyarakat harus dapat berjalan secara seimbang, terutama bagi warga yang selama ini menjadikan timah sebagai sumber penghidupan.

“Kalau memang masyarakat membutuhkan dan menggantungkan hidup dari timah, tanggapilah dengan baik. Disinergikan dengan ekonomi yang baik agar mereka tetap hidup. Harapannya negara diuntungkan dan masyarakat tidak dirugikan,” tuturnya.


Harga Timah Jadi Penopang Kehidupan Keluarga

Lebih dari dua dasawarsa menjadi penambang membuat Didi memahami bahwa perubahan harga timah dapat langsung terasa hingga ke kehidupan rumah tangga. Ketika harga turun sementara biaya operasional tetap tinggi, ruang ekonomi keluarga semakin sempit. Sebaliknya, harga yang membaik memberi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan dengan lebih baik.

Harga sekitar Rp200 ribu per kilogram yang kini dirasakan penambang menjadi harapan agar keadaan ekonomi keluarga dapat kembali tertata. Pengalaman harus menjual peralatan ataupun menggadaikan barang berharga ketika penghasilan tidak mencukupi pun diharapkan tidak kembali terulang.

Bagi Didi, keadaan tersebut pada akhirnya bermuara pada satu harapan, yakni perusahaan dan masyarakat penambang dapat terus berdampingan serta memperoleh manfaat dari pengelolaan timah secara bersama.

“PT TIMAH harus selamanya bersama rakyat. Kita sama-sama hidup. Negara diuntungkan, masyarakat juga tidak dirugikan,” pungkasnya. (*)

Sumber: pemred.com
Share:

Rekomendasi Untukmu Rekomendasi Untukmu

Kamu Harus TahuKamu Harus Tahu