Saat Timah Jadi Tumpuan Hidup, Penambang Belitung Timur Berharap Harga Stabil dan Penjualan Lancar
BELITUNG TIMUR – Timah masih menjadi tumpuan hidup bagi sebagian masyarakat Belitung Timur. Di tengah sulitnya memperoleh hasil tambang, para penambang rakyat berharap harga tetap stabil dan proses penjualan berjalan lancar agar penghasilan yang diperoleh mampu menopang kebutuhan keluarga.
Salah satunya Khairul Anam, warga Desa Selinsing, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur. Sejak 2019, ia menggantungkan penghasilan dari aktivitas penambangan timah rakyat.
Bagi Khairul, mendapatkan timah saat ini bukan perkara mudah. Kondisi lokasi tambang yang semakin sulit membuat hasil produksi tidak pernah dapat dipastikan. Bahkan, memperoleh tiga hingga empat kilogram timah dalam sehari terkadang menjadi tantangan tersendiri.
“Penghasilan tidak tentu. Lokasi sekarang sudah amburadul, jadi agak susah kalau mencari tiga kilo, empat kilo itu sudah agak susah,” ujar Khairul beberapa waktu lalu.
Setelah memperhitungkan biaya operasional, seperti bahan bakar dan berbagai kebutuhan selama bekerja, Khairul mengaku penghasilan bersih yang dibawanya pulang berkisar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per hari ketika mendapatkan hasil.
Bagi penambang kecil seperti dirinya, pendapatan tersebut sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, ketika hasil tambang menurun atau harga timah tidak stabil, kondisi ekonomi rumah tangga ikut terdampak.
Harga Timah Menentukan Penghasilan Penambang
Khairul mengatakan kondisi semakin berat ketika harga timah berada pada tingkat yang dinilai belum sebanding dengan biaya operasional.
Ia pernah menghadapi situasi ketika harga timah berada di kisaran Rp130 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram. Pada saat yang sama, akses untuk menjual hasil tambang juga terbatas.
“Kadang harga timah seperti kemarin tidak stabil. Kadang ada yang Rp130 ribu, Rp140 ribu, itu juga susah. Mau jual ke mana? Kalau sana-sini sudah tutup,” ujarnya.
Menurut Khairul, persoalan penambang rakyat bukan semata-mata mengenai berapa harga yang diterima. Kepastian tempat menjual dan kelancaran transaksi juga menjadi bagian penting dari mata rantai ekonomi mereka.
Ketika harga mulai membaik, persoalan lain terkadang muncul berupa antrean penjualan akibat banyaknya hasil timah yang hendak disalurkan.
“Kalau harga kita sudah bagus, sudah puas sebagai masyarakat. Harga seperti ini ekonomi juga tetap terbantu, sangat terbantu. Karena operasional dengan penghasilan agak sesuai, tapi harus antre seperti ini,” katanya.
Khairul menilai harga yang lebih sesuai dengan biaya operasional memberi ruang bagi penambang rakyat untuk tetap bertahan sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menambang Masih Jadi Pilihan Utama
Ketergantungan terhadap sektor pertambangan membuat Khairul belum melihat banyak pilihan pekerjaan lain yang dapat menggantikan sumber penghasilannya dalam waktu dekat.
Baginya, menambang masih menjadi pekerjaan yang paling memungkinkan untuk dilakukan karena hasilnya dapat diperoleh dalam waktu relatif cepat, meskipun jumlahnya tidak selalu besar.
“Profesi penambang ini satu-satunya yang bisa saya lakukan. Kalau di pertambangan lebih simpel. Pergi pagi, sore sudah dapat duit, meskipun tidak seberapa,” katanya.
Kondisi tersebut membuat keberlangsungan aktivitas pertambangan memiliki arti penting bagi kehidupan keluarganya. Karena itu, kepastian harga dan akses penjualan menjadi harapan utama bagi penambang rakyat seperti Khairul.
Berharap Timah Rakyat Terserap dengan Lancar
Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi, Khairul mengaku tidak memiliki harapan yang muluk-muluk. Ia ingin hasil timah yang diperoleh penambang dapat terserap melalui mekanisme penjualan yang jelas, aman, dan berjalan lancar.
PT TIMAH menjadi salah satu perusahaan yang diharapkannya dapat menampung hasil timah masyarakat sepanjang mekanisme dan persyaratan yang berlaku dapat dipenuhi.
“Harapannya cuma itu. Dari dulu kan harus PT Timah yang menampung kalau kondisi PT Timah ni sudah mapan seperti ini saya tetap pilih ke PT TIMAH karena ambil aman saja dan saya juga bekerja di IUP PT Timah,” katanya.
Khairul mengatakan kelancaran pembelian menjadi hal yang paling penting bagi penambang. Sistem pelayanan juga diharapkan terus diperbaiki sehingga waktu tunggu saat menjual hasil tambang tidak terlalu panjang.
Ia memahami bahwa penjualan timah kepada perusahaan memiliki prosedur dan persyaratan tertentu yang harus dipenuhi.
“Kalau penjualan ke PT Timah kan harus melalui kolektor dulu yang memang bisa menampung. Kalau penambang mau langsung menjual ke PT Timah, tentu ada persyaratan yang harus dipenuhi, seperti kelengkapan surat. Sementara kami ini penambang kecil, jadi memang belum tentu memiliki kelengkapan seperti itu. Kalau melalui kolektor, mereka juga tentu punya target dan ketentuan sendiri,” ujarnya.
Aspirasi Penambang Diminta Tetap Disampaikan Secara Tertib
Khairul turut menanggapi aksi unjuk rasa yang sempat terjadi di Belitung Timur. Sebagai warga yang menggantungkan hidup dari sektor pertambangan, ia memahami keresahan penambang ketika menghadapi kesulitan menjual hasil tambang.
Namun, menurutnya, penyampaian aspirasi tetap harus dilakukan secara tertib dan tidak berujung pada tindakan anarkis.
“Kalau melihat saya sendiri pribadi, terlalu anarkis. Unjuk rasa itu boleh, tapi tidak harus melalui anarkis seperti itu,” katanya.
Ia menilai situasi yang sempat memanas tidak terlepas dari tekanan yang dirasakan masyarakat setelah mengalami kesulitan menjual timah selama beberapa waktu.
Meski demikian, Khairul berharap peristiwa tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak sekaligus momentum untuk memperbaiki sistem penjualan timah rakyat.
Bagi Khairul, harapannya tetap sederhana: harga timah berada pada tingkat yang layak, hasil tambang dapat dijual dengan lancar, dan penambang rakyat tetap memiliki ruang untuk mencari nafkah bagi keluarganya. (*)

