Lewati ke konten utama
pemred.com
★★★★★ Official app

200 Lebih Titik Kebakaran Lahan di Bangka, 300 Hektare Hangus, Armada Pemadam Terbatas

Share:

BANGKA – Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Bangka bukan lagi kejadian sesekali. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, api telah muncul di lebih dari 200 titik dan menghanguskan sekitar 300 hektare lahan.

Situasinya makin serius karena laporan kebakaran terus berdatangan. Di tengah cuaca panas dan vegetasi yang mengering, petugas juga harus berjibaku dengan keterbatasan armada dan sulitnya menjangkau sejumlah titik api.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satpol PP Kabupaten Bangka, Achmad Suherman, mengatakan laporan kebakaran lahan nyaris diterima setiap hari.

“Dari Januari sampai sekarang (Agustus), sudah lebih dari 200 titik dan luasan yang terbakar sekitar 300 hektare terkena Karhutla,” kata Suherman, Rabu (12/8/2026).

Diduga Banyak Berawal dari Pembakaran Lahan

Di balik tingginya angka kebakaran, aktivitas manusia menjadi salah satu yang disorot. Menurut Suherman, sebagian besar kejadian diduga berkaitan dengan masyarakat yang sengaja membakar lahan untuk membuka maupun membersihkan kebun.

Cara yang dianggap praktis itu kini menjadi ancaman serius. Saat cuaca panas bertemu semak dan vegetasi kering, api kecil bisa dengan cepat menjalar ke area yang lebih luas.

Kondisi inilah yang membuat upaya pencegahan menjadi penting. Sebab ketika api sudah masuk jauh ke kawasan hutan, proses pemadaman jauh lebih sulit.

Punya 4 Armada, Hanya 2 Berfungsi Efektif

Persoalan lain muncul dari sisi penanganan. Satpol PP Kabupaten Bangka memiliki empat unit armada, tetapi hanya dua yang disebut dapat berfungsi secara efektif.

Belum lagi banyak titik kebakaran berada jauh di dalam kawasan hutan dan tidak dapat dijangkau kendaraan pemadam.

“Banyak titik api berada jauh di dalam kawasan hutan, yang tidak dapat dijangkau oleh kendaraan pemadam. Kemudian, armada terbatas dari total 4 unit armada yang dimiliki Satpol PP Bangka hanya 2 unit yang berfungsi efektif,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat petugas harus bekerja lebih keras untuk melokalisasi api agar tidak terus meluas.

Di Tuing, Api Dilawan Sampai Enam Hari

Sulitnya memadamkan kebakaran tergambar dari penanganan di kawasan Tuing. Petugas membutuhkan waktu hingga enam hari karena titik api tak langsung benar-benar padam.

Meski kobaran utama telah berhasil dikendalikan, letupan-letupan kecil masih terus muncul.

“Terakhir titik api membandel, di kawasan Tuing, misalnya, proses penanganan bahkan memakan waktu hingga enam hari karena masih munculnya letupan-letupan kecil meski api utama telah dikendalikan,” jelas Suherman.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, sebanyak 20 personel disiagakan. Satpol PP juga bersinergi dengan instansi terkait setiap kali menerima laporan kebakaran.

“Ketika ada laporan atau pengaduan, anggota kami bersama instansi terkait turun langsung memadamkan api dengan tujuan antisipasi terjadinya api semakin membesar,” ujarnya.

Jangan Tunggu Api Membesar

Dengan lebih dari 200 titik kebakaran dan sekitar 300 hektare lahan telah terbakar, masyarakat diminta tidak lagi membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.

Cuaca panas dan kondisi lahan yang kering membuat percikan api yang terlihat kecil sekalipun berpotensi berubah menjadi kebakaran besar.

Suherman menegaskan pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada petugas.

“Pencegahan ini bukan hanya tugas petugas, masyarakat juga punya peran penting. Jangan sampai api yang awalnya kecil menjadi kebakaran besar, mari kita jaga lingkungan kita bersama-sama,” pintanya. (*)

Sumber: pemred.com
Share:

Rekomendasi Untukmu Rekomendasi Untukmu

Kamu Harus TahuKamu Harus Tahu