PEMRED.COM
PEMRED.COM Official App ★★★★★ GRATIS

Bangka Selatan Masuk Zona Merah, Risiko Bencana Alam Tertinggi di Bangka Belitung

Risiko bencana alam di Bangka Selatan berada di titik yang sulit diabaikan. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah ini tercatat sebagai daerah dengan indeks risiko bencana tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Bentang alam pesisir, rawa, dan perubahan fungsi lahan menjadi latar yang terus muncul dalam setiap kejadian. Banjir, banjir rob, abrasi pantai, hingga angin puting beliung datang silih berganti, membentuk pola yang kian berulang.

Kondisi itu dirasakan langsung oleh pemerintah daerah. Di Kabupaten Bangka Selatan, bencana hidrometeorologi menjadi peristiwa yang tak lagi jarang.

Banjir dan Puting Beliung Paling Sering

Kepala Bidang Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Satpol PP dan Damkar Kabupaten Bangka Selatan, Ardiansyah, menyebut banjir dan angin puting beliung sebagai dua kejadian yang paling dominan.

Perang di Selat Hormuz Memanas, AS Serang Dua Kapal Tanker Iran

“Beberapa tahun ini Kabupaten Bangka Selatan merupakan daerah dengan indeks risiko bencana alam tertinggi. Khususnya bencana banjir dan angin puting beliung,” kata Ardiansyah kepada Bangkapos.com, Jumat (23/1/2026).

Ia mencontohkan banjir yang belum lama terjadi di Desa Tepus. Hujan dengan intensitas tinggi membuat sejumlah rumah warga terendam. Namun, menurutnya, air tidak datang semata karena hujan.

Lingkungan yang Melemah

Kerusakan lingkungan disebut ikut mempercepat datangnya bencana. Alih fungsi lahan dan aktivitas pertambangan timah, baik di darat maupun pesisir, mengubah bentang alam dan sistem aliran air.

Daerah yang sebelumnya menjadi resapan kini berubah menjadi permukiman, perkebunan, hingga area tambang. Daya dukung lingkungan pun terus menurun. Sungai mengalami sedimentasi, saluran drainase dangkal, dan air hujan kehilangan jalur alaminya.

189 Inovasi Jadi Gebrakan Pemprov Babel Perkuat Pelayanan dan Tata Kelola

“Memang belakangan ini banjir yang kita tangani terjadi di Desa Tepus. Ada beberapa rumah yang terendam. Penyebabnya salah satunya kerusakan lingkungan, ditambah intensitas hujan yang cukup tinggi, serta hilirisasi banjir dari wilayah hulu,” jelas Ardiansyah.

Laman: 1 2 3

× Advertisement
× Advertisement