Setelah 37 Tahun Kekuasaan Khamenei, Iran Kini Menunggu Pemimpin Baru

Iran memasuki masa berkabung setelah satu era kekuasaan berakhir tiba-tiba.

Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi yang memimpin Republik Islam hampir empat dekade, dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu pagi. Konfirmasi datang dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan media pemerintah Iran pada Minggu (1/3/2026).

Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Pemerintah juga mengumumkan tujuh hari libur nasional untuk memperingati wafatnya sosok yang memegang kendali politik dan religius negara itu sejak 1989.

โ€œKhamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah meninggal,โ€ tulis Trump di Truth Social.

โ€œDia tidak dapat menghindari intelijen dan sistem pelacakan canggih kami dan, bekerja sama erat dengan Israel, tidak ada yang bisa dia, atau para pemimpin lain yang telah terbunuh bersamanya, lakukan,โ€ lanjut Trump.

Ramadan, PMII Bangka Gelar Buka Puasa dan Santunan Anak Panti di Sungailiat

Di balik pengumuman berkabung itu, satu pertanyaan segera muncul di ruang politik Iran: siapa yang akan menggantikan posisi tertinggi tersebut.

Suksesi yang Sudah Dipersiapkan

Ayatollah Ali Khamenei wafat pada usia 86 tahun. Selama hampir 37 tahun ia memimpin Iran sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam sistem politik negara tersebut.

Situasi seperti ini tampaknya bukan hal yang sepenuhnya tak diperkirakan. Pada Juni tahun lalu, ketika perang 12 hari antara Iran dan Israel berlangsung dan Khamenei berada di tempat persembunyian, ia disebut telah menyebut sejumlah kandidat yang dapat segera diangkat jika keadaan darurat terjadi.

Trump pada Sabtu mengatakan ada โ€œbeberapa kandidat yang baikโ€ untuk memimpin Iran setelah ia mengumumkan pembunuhan Khamenei.

Marwan Ditemukan di Sungailiat, Akhir Pencarian Tim Tabur Kejati Babel

Menurut laporan CNN, ketika Trump ditanya oleh seorang jurnalis siapa yang menurutnya dapat menggantikan Khamenei, Trump berkata, โ€œSaya tahu persis siapa, tetapi saya tidak bisa memberi tahu Anda.โ€

Ketika ditanya apakah ada seseorang di Iran yang lebih disukainya untuk memimpin, Trump berkata, โ€œYa, saya rasa begitu. Ada beberapa kandidat yang baik.โ€

Dia tidak berkomentar lebih lanjut tentang siapa yang ia maksud.

Menurut laporan New York Times, pemimpin tertinggi Iran haruslah seorang ulama dan cendekiawan Syiah senior yang dipilih oleh komite ulama yang dikenal sebagai Majelis Pakar.

Berdasarkan wawancara dengan enam pejabat senior Iran, tiga nama yang disebut dekat dengan preferensi Khamenei adalah kepala peradilan Gholam-Hossein Mohseni-Ejeโ€™i, kepala staf Khamenei Ali Asghar Hejazi, serta Hassan Khomeini.

Ramadhan di Smansa Pangkalpinang, Ketika IKA Smansa Kembali untuk Berbagi

Selain nama-nama tersebut, ulama senior Hashem Hosseini Bushehri juga kerap disebut memiliki peluang dalam proses suksesi.

Adapun Mojtaba Khamenei, putra kedua Khamenei yang kini berusia 56 tahun, disebut memiliki peluang tipis untuk menggantikan ayahnya.

Khamenei sebelumnya pernah mengatakan kepada para pengikutnya bahwa ia tidak ingin jabatan tersebut diwariskan secara turun-temurun.

Nama-Nama yang Muncul

Beberapa ulama lain juga mulai disebut dalam pembicaraan mengenai kemungkinan suksesi.

1. Alireza Arafi

Dia adalah ulama 67 tahun dan berpengalaman. Arafi merupakan rekan dekat Khamenei, yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua Majelis Pakar.

Dia juga pernah menjadi anggota Dewan Wali yang berpengaruh, badan yang bertanggung jawab untuk menyeleksi kandidat dalam pemilu dan meninjau undang-undang yang disahkan oleh Parlemen.

Dia juga memimpin sistem seminari Iran.

Meskipun memiliki reputasi keagamaan yang kuat, dia tidak secara luas dianggap sebagai kekuatan politik utama dan tidak dikenal memiliki hubungan yang kuat dengan lembaga keamanan.

2. Mohammad Mehdi Mirbagheri

Dia adalah seorang ulama garis keras berusia 60-an. Dia anggota Majelis Pakar, mewakili faksi paling konservatif dalam kalangan ulama.

Menurut IranWire, dia sangat menentang Barat dan berpendapat bahwa konflik antara orang beriman dan orang kafir tidak dapat dihindari.

Saat ini dia memimpin Akademi Ilmu Pengetahuan Islam di kota suci Qom di Iran utara.

3. Hassan Khomeini

Dia adalah cucu dari pendiri Republik Islam Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Tokoh berusian 50-an ini memiliki kedudukan religius dan kredibilitas revolusioner.

Dia bertugas sebagai penjaga mausoleum Khomeini, tetapi belum pernah memegang jabatan publik dan tampaknya memiliki pengaruh yang terbatas di internal keamanan atau elite penguasa.

Dibandingkan dengan banyak rekan sejawatnya, dia dianggap kurang garis keras.

Dia juga pernah disebut Khamenei sebagai salah satu calon penerusnya.

4. Hashem Hosseini Bushehri

Dia adalah seorang ulama senior berusia 60-an.

Dia memiliki koneksi dekat ke lembaga-lembaga kunci yang terlibat dalam proses suksesi, khususnya Majelis Pakar, di mana dia menjabat sebagai wakil ketua pertama.

Dia dekat dengan Khamenei, mempertahankan sosok low-profile dan tidak diketahui memiliki hubungan yang kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. (PT)