Iran memasuki masa berkabung setelah satu era kekuasaan berakhir tiba-tiba.
Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi yang memimpin Republik Islam hampir empat dekade, dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu pagi. Konfirmasi datang dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan media pemerintah Iran pada Minggu (1/3/2026).
Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Pemerintah juga mengumumkan tujuh hari libur nasional untuk memperingati wafatnya sosok yang memegang kendali politik dan religius negara itu sejak 1989.
“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah meninggal,” tulis Trump di Truth Social.
“Dia tidak dapat menghindari intelijen dan sistem pelacakan canggih kami dan, bekerja sama erat dengan Israel, tidak ada yang bisa dia, atau para pemimpin lain yang telah terbunuh bersamanya, lakukan,” lanjut Trump.
Di balik pengumuman berkabung itu, satu pertanyaan segera muncul di ruang politik Iran: siapa yang akan menggantikan posisi tertinggi tersebut.
Suksesi yang Sudah Dipersiapkan
Ayatollah Ali Khamenei wafat pada usia 86 tahun. Selama hampir 37 tahun ia memimpin Iran sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam sistem politik negara tersebut.
Situasi seperti ini tampaknya bukan hal yang sepenuhnya tak diperkirakan. Pada Juni tahun lalu, ketika perang 12 hari antara Iran dan Israel berlangsung dan Khamenei berada di tempat persembunyian, ia disebut telah menyebut sejumlah kandidat yang dapat segera diangkat jika keadaan darurat terjadi.


