
Dari Kampus ke Layanan Publik
Di balik pengembangan aplikasi ini, terdapat keterlibatan mahasiswa melalui program inovasi nasional Innovillage. Wakil Rektor III ISB Atma Luhur Yurindra menjelaskan, aplikasi QRIS retribusi sampah merupakan salah satu inovasi yang berhasil lolos seleksi ketat.
Dari sekitar 980 tim peserta, hanya 185 tim yang dinyatakan lolos. ISB Atma Luhur menjadi satu-satunya perwakilan dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang memperoleh pendanaan hibah untuk merealisasikan inovasi tersebut.
Program Innovillage diselenggarakan Telkom University bekerja sama dengan Danantara, dengan fokus pada pengembangan solusi teknologi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Menurut Yurindra, desain aplikasi disusun agar tidak hanya melayani warga yang terbiasa dengan transaksi digital. Mekanisme manual tetap disiapkan bagi masyarakat yang belum akrab dengan sistem nontunai.
“Yang sudah siap digital bisa langsung menggunakan QRIS, sementara masyarakat yang belum terbiasa tetap kami fasilitasi. Pendekatan inklusif ini menjadi pembeda agar transformasi digital tidak meninggalkan siapa pun,” jelasnya.
Dukungan Pemerintah Kota Pangkalpinang, lanjut dia, sudah diberikan sejak awal, termasuk melalui surat rekomendasi Bapperida saat pengajuan program Innovillage.
Di atas kertas, pengembangan aplikasi ini sejalan dengan agenda pengelolaan sampah, transparansi retribusi, dan modernisasi pelayanan publik. Aplikasi QRIS retribusi sampah pun diproyeksikan menjadi bagian awal dari sistem pembayaran daerah terpadu di Pangkalpinang. Bagaimana penerapannya nanti, akan ditentukan oleh kesiapan sistem dan penerimaan warga yang akan menggunakannya.


