Lewati ke konten utama
pemred.com
★★★★★ Official app

Erupsi Anak Krakatau Tembus Tropopause, Abu Vulkanik Berpotensi Meluas ke Empat Provinsi

Share:

LAMPUNG – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) meningkat signifikan sejak Jumat (4/9/2026) malam. Erupsi kembali terjadi pada Minggu (6/9/2026) setelah pukul 07.00 WIB, usai aktivitas letusan sempat berhenti sekitar pukul 00.00 WIB.

Profesor Riset sekaligus pakar klimatologi dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yulihastin, mengatakan status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.

Menurut Erma, peringatan kode merah atau red code untuk penerbangan juga masih berlaku. Masyarakat diminta mewaspadai potensi meluasnya abu vulkanik, terutama di wilayah Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

“Kode merah (bahaya) untuk penerbangan masih berlaku. Bersiap dan waspada dengan hujan abu yang semakin meluas di wilayah 4 provinsi ini: Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat,” kata Erma melalui akun X pribadinya, @EYulihastin, Minggu (6/9/2026).

Kolom Letusan Diperkirakan Capai 13 Kilometer

Berdasarkan pemantauannya, Erma menyebut ketebalan asap dari letusan Gunung Anak Krakatau mengindikasikan material erupsi telah mencapai lapisan tropopause. Ketinggian kolom letusan diperkirakan mencapai sekitar 13 kilometer.

Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena material yang mencapai tropopause berpotensi terbawa sirkulasi atmosfer dalam jangkauan yang lebih luas.

“Semburan kolom hingga tropopause itu bahaya sebab ada sirkulasi Hadley yang memungkinkan apa yang disemburkan di wilayah khatulistiwa bisa ditransfer ke negara-negara subtropis,” ujarnya.

Erma menilai erupsi Gunung Anak Krakatau juga dapat berdampak langsung terhadap sektor ekonomi, khususnya penerbangan. Material vulkanik di atmosfer menjadi ancaman serius bagi keselamatan penerbangan sehingga peringatan kode merah perlu menjadi perhatian.

“Red code aviation belum dicabut oleh PVMBG. Memang berbahaya untuk penerbangan jika sulfur masuk ke mesin pesawat bisa sebabkan icing pada mesin dan lain-lain,” katanya.

Selain itu, pergerakan awan hasil aktivitas vulkanik juga terus dipantau. Berdasarkan simulasi, apabila terdapat angin laut yang cukup kuat, abu vulkanik berpotensi bergerak menuju Serang, Banten, dan daerah di sekitarnya.

Abu Vulkanik Bukan Debu Biasa

Pakar Vulkanologi Institut Teknologi Sumatera (Itera), Happy Christin Natalia, menjelaskan erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini bertipe Strombolian, yakni erupsi yang dapat melontarkan material dan lava pijar atau lava fountain.

Happy mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap abu vulkanik seperti debu biasa. Selain mengandung berbagai unsur yang berasal dari magma, abu vulkanik memiliki partikel sangat kecil dengan bentuk bersudut tajam yang berisiko mengganggu kesehatan.

“Kandungan abu vulkanik umumnya sama dengan unsur yang terdapat dalam magma, seperti silika, aluminium, dan lainnya. Namun, yang paling berbahaya sebenarnya adalah bentuk partikelnya yang berukuran sangat kecil dan bersudut tajam, sehingga dapat mengiritasi atau melukai saluran pernapasan,” kata Happy.

Karakteristik tersebut membuat abu vulkanik berbahaya apabila terhirup tanpa perlindungan, terutama dalam jumlah banyak atau dalam paparan berkepanjangan.

Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak diminta mengikuti seluruh arahan pemerintah dan petugas berwenang, menggunakan perlindungan yang memadai ketika terjadi hujan abu, serta terus memantau informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Happy juga mengingatkan masyarakat untuk memperoleh informasi dari sumber resmi seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. (Rz)

Sumber: pemred.com
Share:

Rekomendasi Untukmu Rekomendasi Untukmu

Kamu Harus TahuKamu Harus Tahu