Sugiono menegaskan bahwa reshuffle sepenuhnya merupakan kewenangan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, pertanyaan soal perombakan kabinet seharusnya diarahkan langsung kepada kepala negara.
“Itu kan hanya Presiden yang tahu dan berwenang melakukan reshuffle,” katanya sebelum meninggalkan kompleks parlemen.
Saat kembali ditanya soal kemungkinan reshuffle awal Februari, jawabannya tetap sama. Ia mengaku belum mendengar kabar tersebut.
Memilih Tidak Berbicara
Sikap berbeda terlihat dari Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid. Ia memilih tidak berbicara.
Meutya baru saja meluncurkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital tentang Registrasi Biometrik melalui program SEMANTIK di Gedung Sarinah, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026). Usai acara, ia sempat memberi keterangan pers terkait kebijakan itu.
Namun ketika pertanyaan bergeser ke isu reshuffle, responsnya berubah. Meutya tersenyum lebar, memalingkan wajah, lalu melangkah pergi. Pengawalnya segera menghalangi wartawan. Tak lama kemudian, ia meninggalkan lokasi dengan mobil pribadinya, tanpa satu pun pernyataan.
Sikap bungkam itu justru membuat posisinya semakin sering disebut dalam spekulasi.
Nama-Nama dari Luar Kabinet
Di sisi lain, isu reshuffle juga diiringi bursa nama baru. Tiga sosok kerap muncul dalam pembicaraan: Budisatrio Djiwandono, Angga Raka Prabowo, dan Juda Agung.
Nama Budisatrio mencuat setelah Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto melontarkan pernyataan bernada canda. Tafsir pun berkembang, seolah ada peluang perpindahan dari legislatif ke eksekutif.


