Rumah dinas wali kota tidak lagi berdiri sebagai bangunan yang tertutup. Pagi itu, ruang-ruangnya diisi langkah kecil dan suara ingin tahu. Sejumlah siswa SD Negeri 60 datang untuk melihat, mendengar, dan mengingat bagian dari sejarah kota yang selama ini hanya mereka kenal lewat cerita.
Kunjungan itu diterima langsung oleh Susanti Saparudin, Ketua TP PKK Kota sekaligus Bunda Literasi. Di rumah dinas wali kota di Pangkalpinang, Kamis (29/1/2026), ia menyambut rombongan yang mengikuti house tour sejarah sebagai pengenalan sejak usia dini.

Menurut Susanti, mengenal kota sendiri bukan perkara tambahan. Itu bagian dari menjadi warga.
โSebagai warga Pangkalpinang, kita harus tahu sejarah kota ini dan bangga dengan keberadaan sejarah yang ada. Ini patut dijaga dan dilestarikan,โ ujarnya kepada para siswa.
Ia lalu menggeser makna kunjungan itu lebih jauh dari sekadar datang dan pulang. Pengalaman, kata Susanti, perlu berjalan.
โNanti pas pulang, ceritakan ke teman-teman dan keluarga, seperti inilah rumah dinas wali kota. Kalau ada teman dari SD lain yang ingin berkunjung ke sini, silakan bersurat,โ katanya.

Rumah dinas, dalam penjelasan Susanti, kini ditempatkan sebagai rumah rakyat. Bukan hanya boleh didatangi, tetapi juga dipelajari. Bukan sekadar bangunan, melainkan penanda perjalanan pemerintahan dan kota.
โSekarang rumah dinas lebih hidup. Ini rumah rakyat, boleh dilihat, harus tahu sejarahnya. Boleh datang ke sini untuk menambah pengetahuan. Silakan bersurat ke dinas terkait bagi yang mau berkunjung dari sekolah atau umum,โ jelasnya.
Hari itu, rumah dinas tidak berubah bentuk. Yang berubah adalah cara ia dihadapi.


