Ia menambahkan, saat ini terdapat 16 perusahaan perakitan kendaraan listrik yang ditopang oleh 332 pemasok komponen dalam negeri. Sebagian besar pemasok tersebut berasal dari kalangan industri kecil dan menengah.
Jumlah itu bertumbuh sebesar 127 persen sejak program kendaraan bermotor rendah emisi mulai dijalankan. Perkembangannya turut menyerap sekitar 195 ribu tenaga kerja langsung.
“Adapun level atau TKDN, kendaraan elektrik dalam catatan kami sekarang rata-rata berada pada kisaran 40–46 persen. Bahkan ada merek yang sudah bersertifikasi TKDN sampai 80 persen,” jelasnya.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan, peningkatan jumlah kendaraan listrik perlu berjalan seiring dengan pembangunan ekosistem yang semakin kuat dan dapat diandalkan. Dengan demikian, masyarakat akan memperoleh kemudahan ketika beralih menuju transportasi rendah emisi.
“PLN terus mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik melalui penyediaan infrastruktur pengisian daya dan berbagai kemudahan layanan bagi pelanggan. Melalui kolaborasi yang erat dengan pemerintah, industri, dan seluruh pemangku kepentingan, kami optimistis adopsi kendaraan listrik akan terus meningkat sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat, memperkuat ketahanan energi nasional, dan mempercepat transisi energi,” ujar Darmawan.
Mengisi Daya Lebih Mudah di Kediaman
Di samping memberikan keringanan biaya tambah daya, PLN menghadirkan layanan Home Charging Services (HCS) untuk memudahkan pelanggan memasang perangkat pengisian daya kendaraan listrik di rumah.
Layanan tersebut dirancang agar proses pemasangan dapat dilakukan dengan lebih mudah, praktis, dan nyaman.
Direktur Retail dan Niaga PLN M. Fahrur Rozy menyebutkan, hingga Semester I 2026, sebanyak 92.112 unit layanan HCS telah terpasang.


