Lebih dari dua dasawarsa menjadi penambang membuat Didi memahami bahwa perubahan harga timah dapat langsung terasa hingga ke kehidupan rumah tangga. Ketika harga turun sementara biaya operasional tetap tinggi, ruang ekonomi keluarga semakin sempit. Sebaliknya, harga yang membaik memberi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan dengan lebih baik.
Harga sekitar Rp200 ribu per kilogram yang kini dirasakan penambang menjadi harapan agar keadaan ekonomi keluarga dapat kembali tertata. Pengalaman harus menjual peralatan ataupun menggadaikan barang berharga ketika penghasilan tidak mencukupi pun diharapkan tidak kembali terulang.
Bagi Didi, keadaan tersebut pada akhirnya bermuara pada satu harapan, yakni perusahaan dan masyarakat penambang dapat terus berdampingan serta memperoleh manfaat dari pengelolaan timah secara bersama.
“PT TIMAH harus selamanya bersama rakyat. Kita sama-sama hidup. Negara diuntungkan, masyarakat juga tidak dirugikan,” pungkasnya. (*)


