BELITUNG TIMUR – Di tengah amarah ribuan penambang yang memadati Kantor Operasional PT Timah di Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Jumat (7/8/2026), Kapolres Belitung Timur AKBP Dr. Husni Tamrin berada di tengah massa dan berupaya menjaga agar aspirasi masyarakat tetap mendapatkan ruang untuk disampaikan.
Situasi dalam aksi tersebut tidak selalu berlangsung tenang. Kekecewaan masyarakat terhadap persoalan pembelian dan harga bijih timah membuat tensi aksi beberapa kali meningkat. Teriakan terdengar dari kerumunan, bahkan Kapolres sempat mendapat lemparan botol saat berhadapan langsung dengan massa.
Namun, Husni tetap berada di lokasi dan memilih pendekatan persuasif. Di hadapan para penambang, ia berusaha meyakinkan bahwa kepolisian tidak datang untuk menghalangi masyarakat menyampaikan tuntutan.
“Mohon izin, rekan-rekan sekalian. Yakinlah, kami berada di pihak warga. Yakinlah kami akan memperjuangkan apa yang menjadi aspirasi dari masyarakat,” ujar AKBP Husni di hadapan massa.
Polisi Tegaskan Bukan Tameng PT Timah
Di tengah situasi yang memanas, Husni juga menegaskan posisi kepolisian. Menurutnya, polisi tidak memiliki kepentingan untuk membela ataupun menjadi tameng bagi PT Timah.
“Kami tidak ada sedikit pun kepentingan terkait dengan PT Timah. Itu yang harus rekan-rekan pahami terlebih dahulu terhadap kami pihak kepolisian,” tegasnya.
Kepolisian, kata dia, berada dalam posisi yang harus menjaga dua hal sekaligus. Aspirasi masyarakat harus mendapatkan ruang, sementara keamanan dan ketertiban juga harus dijaga agar kekecewaan yang muncul tidak berkembang menjadi tindakan yang merugikan banyak pihak.
Di satu sisi, terdapat masyarakat penambang yang menggantungkan mata pencaharian dan kebutuhan keluarganya pada aktivitas pertambangan. Di sisi lainnya, aparat memiliki tanggung jawab menjaga situasi tetap terkendali.
Karena itu, Husni berupaya mengambil posisi sebagai jembatan komunikasi antara masyarakat dan pihak perusahaan.


