Susanti Saparudin, Sekolah, dan Kata “Bercanda”

Ruang kelas mendadak menjadi tempat berbagi kegelisahan. Bukan soal ujian, melainkan hal-hal yang sering dianggap sepele. Bullying dan pergaulan bebas. Dua kata yang terdengar akrab, namun dampaknya jarang dibicarakan dengan tenang.

Di hadapan pelajar SMP Negeri 7 Pangkalpinang, Susanti Saparudin. Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang sekaligus Bunda Forum Anak hadir bersama DP3AKB Kota Pangkalpinang dan Forum Anak Pangkalpinang. Sosialisasi itu berlangsung Selasa (27/1/2026), dengan satu pesan yang terus berulang: sekolah seharusnya aman.

Ketika Candaan Berubah Arah

Bullying, kata Susanti, sering berangkat dari niat yang katanya bercanda. Tapi batasnya tipis. Dan sering dilupakan.

“Teman itu dirangkul, bukan dipukul. Bullying bukan sekadar bercanda. Kalau sudah ada yang merasa sakit hati atau takut, itu sudah termasuk penindasan,” ujar Susanti.

Ia mengurai bentuk-bentuk perundungan yang kerap terjadi. Ada yang terlihat, ada pula yang bersembunyi di balik layar. Fisik, verbal, hingga komentar jahat di media sosial. Semuanya meninggalkan jejak.

Residivis Curat Curi Dua Aki di Gabek, Ditangkap Buser Naga dalam Operasi Pekat 2026

Dampaknya tidak berhenti di satu hari. Korban bisa memilih diam, menjauh dari sekolah, atau menyimpan trauma yang lebih panjang.

Tidak Diam di Pinggir

Di titik itu, Susanti mengajak siswa mengambil peran lain. Bukan sebagai penonton.

“Anak-anak jangan hanya jadi penonton. Jadilah upstander, pembela kebenaran. Kalau melihat ketidakadilan, laporkan kepada guru,” tegasnya.

Pesan itu sederhana, tapi arahnya jelas. Sekolah bukan hanya soal hadir dan pulang.

Empat Pria Asyik Main Domino di Rangkui Diciduk Tim Buser Naga dalam Operasi Pekat 2026

Rasa Ingin Tahu dan Rem yang Pakem

Topik bergeser ke pergaulan bebas. Masa SMP disebut Susanti sebagai fase yang penuh rasa ingin tahu. Wajar. Tapi, menurutnya, rasa ingin tahu perlu ditemani batas.

“Masa SMP itu rasa ingin tahunya besar, itu bagus, tapi harus punya rem yang pakem. Bergaul luas boleh, tapi tetap punya prinsip dan jangan mudah ikut-ikutan tren yang merugikan kesehatan seperti rokok atau miras,” katanya.

Lingkar pertemanan dan penggunaan gadget ikut disorot. Tidak semua ajakan patut diikuti. Tidak semua konten layak dikonsumsi.

“Gunakan gadget dengan bijak. Jangan mudah tergiur konten negatif atau ajakan dari orang asing di dunia maya,” lanjut Susanti.

Pengembangan Kasus Tambang Pondi, Dirut dan PJO CV Tiga Saudara Resmi Jadi Tersangka

Menjaga Arah

Di akhir pertemuan, ajakan yang disampaikan terdengar akrab. Fokus pada prestasi. Menyalurkan energi ke kegiatan positif seperti ekstrakurikuler dan hobi. Membuka komunikasi dengan guru dan orang tua. Saling menghargai di lingkungan sekolah.

Tidak ada penutup yang bombastis. Hanya pengingat bahwa pilihan-pilihan kecil, jika dibiarkan, bisa tumbuh menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan, pelan-pelan, membentuk arah.