“Tapi ini bagus nih. Ini bisa produksi massal?” ujar Prabowo.
Prabowo juga menanyakan sosok peneliti di balik inovasi tersebut. Genteng biomassa itu diperkenalkan oleh Prof. Sukma Surya Kusumah dari Pusat Riset Biomassa Indonesia, BRIN.
Sabut Kelapa Jadi Material Atap
Prof. Sukma menjelaskan, genteng tersebut dibuat menggunakan limbah biomassa, terutama sabut kelapa. Pemanfaatan bahan alami itu diharapkan menjadi alternatif material bangunan yang lebih ramah lingkungan.
Selain ringan, genteng tersebut juga diklaim memiliki daya tahan tinggi terhadap benturan. Demonstrasi di hadapan Presiden memperlihatkan genteng tetap utuh setelah dibanting dan diinjak.
Dari sisi harga, Sukma menyebut genteng tersebut saat ini berada pada kisaran Rp15.000 hingga Rp26.000 per buah. Apabila nantinya diproduksi dalam skala besar, harga diperkirakan dapat ditekan hingga sekitar Rp10.000 per genteng.
Untuk satu rumah tipe 36, kebutuhan genteng diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp11 juta.
“Untuk tipe 36 total biayanya sekitar Rp11 juta untuk gentengnya, Bapak,” kata Sukma.
Sudah Diterapkan di Nias
Teknologi genteng biomassa tersebut sebelumnya juga telah diterapkan dalam program bantuan TNI Angkatan Darat di Nias. Untuk rumah berukuran 4 x 6 meter, kebutuhan genteng diperkirakan mencapai sekitar Rp12 juta.
Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pertemuan dengan Presiden menjadi kesempatan bagi sekitar 150 peneliti untuk memaparkan berbagai hasil riset strategis yang dikembangkan BRIN.


